Manaqib Kh. Hamdan Khalid
Ulama Sepuh Nahdlatul Ulama Dari Amuntai Kalsel
*****
KH. Hamdan Khalid ialah putra bungsu dari Syekh KH. Muhammad Khalid, lahir di Amuntai, Jum'at, 10 Januari 1936 M (bertepatan dengan 15 Syawal 1354 H).
Sewaktu kecil dia bersekolah di SR As-Salam Martapura, dan terus masuk Ponpes “Darussalam” Martapura pada tahun 1956.
Pada tahun 1962 menimba ilmu pada ‘Ulya Al-Azhar, lalu melanjutkan ke Fakultas Syari’ah Universitas al-Azhar Kairo Mesir tahun 1965, dan Dirasah Ulya Tarikh fi Uly tahun 1966.
Beliau pernah menjadi Dosen pada fakultas Ushuluddin di Amuntai (1967), Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari (1977-1983), Kepala Madrasah Aliyah Normal islam Puteri Rakha (1948-1952), menjabat sebagai Hakim Agung pada kantor Pengadilan Agama, Ketua Pengadilan Agama Amuntai (1986-1997), Anggota Dewan Pembina Ponpes Rakha (2012-2017), Ketua Baznas Kabupaten HSU, Ketua MUI kab. HSU, dan lalu menjadi Ketua Dewan pertimbangan Fatwa MUI Kab. HSU, dan lain-lain. Juga sebagai Mustasyar PWNU Kalsel dan Rais Syuriah Pengurus Besar (PBNU) Jakarta.
Beliau juga mengisi pengajian rutin di Majelis Taklim “Al-Khalidiyah” Tangga Ulin dan “al-Ma’arif” Amuntai. Khusus pengajian di MT Taklim al-Ma’arif, dia mulai pada sekitar tahun 1960-an final yaitu sepulang dari kuliah di Mesir. Adapun bahan yang dia bahas adalah persoalan tauhid, fiqih, tasawuf dan banyak sekali permasalahan kemasyarakatan yang dialami.
KH. Hamdan Khalid, Lc termasuk ulama yang gigih memberantas sekaligus meluruskan aliran-aliran yang menyimpang dari aliran islam yang sebenarnya. Diantara kitab atau risalah yang berkaitan dengan hal tersebut, yang ditulis oleh dia ialah : "Agenda Khusus Dialog Kitab Ad-Durun Nafis".
BEBERAPA KALAM KH. HAMDAN KHALID
1. Terhadap suatu amalan yang baik, jika belum pernah dibaca, baca dulu, jika sudah diamalkan, amalkan terus.
2. Bila kita berziarah, bacakanlah apa saja yang kita bisa, menyerupai bacaan al-Qur’an dan shalawat, maka hal tersebut akan memberi faedah kepada orang yang kita ziarahi, dan kepada diri kita sendiri.
3. Memang segala sesuatunya diciptakan oleh Tuhan. Tetapi yang baik-baik saja yang kita sandarkan kepada Tuhan. Sedangkan yang tidak baik ialah semata-mata alasannya ialah kesalahan kita. Itu merupakan adat kita kepada Tuhan.
4. Tolong kitab-kitab yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah semoga ditinggalkan alasannya ialah dapat menyesatkan ummat.
5. Hendaknya gunakan waktu untuk membaca al-qur’an, kada kawa banyak sedikit barang.
6. Arti ‘wajib baginya syafa’atku’, maksudnya Rasulullahlah yang akan ‘maharung’ diakhirat kelak.
KH. Hamdan Khalid wafat hari Senin kemaren.
Innaa Lillah Wa Inna Ilaihi Raaji'uun.
Semoga Allah mengampuni semua kesalahan beliau, membalas semua amal baik beliau, dan mengumpulkan dia bersama wali-waliNya.
Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin.
Al-Fatihah...
*****
KH. Hamdan Khalid ialah putra bungsu dari Syekh KH. Muhammad Khalid, lahir di Amuntai, Jum'at, 10 Januari 1936 M (bertepatan dengan 15 Syawal 1354 H).
Sewaktu kecil dia bersekolah di SR As-Salam Martapura, dan terus masuk Ponpes “Darussalam” Martapura pada tahun 1956.
Pada tahun 1962 menimba ilmu pada ‘Ulya Al-Azhar, lalu melanjutkan ke Fakultas Syari’ah Universitas al-Azhar Kairo Mesir tahun 1965, dan Dirasah Ulya Tarikh fi Uly tahun 1966.
Beliau pernah menjadi Dosen pada fakultas Ushuluddin di Amuntai (1967), Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin IAIN Antasari (1977-1983), Kepala Madrasah Aliyah Normal islam Puteri Rakha (1948-1952), menjabat sebagai Hakim Agung pada kantor Pengadilan Agama, Ketua Pengadilan Agama Amuntai (1986-1997), Anggota Dewan Pembina Ponpes Rakha (2012-2017), Ketua Baznas Kabupaten HSU, Ketua MUI kab. HSU, dan lalu menjadi Ketua Dewan pertimbangan Fatwa MUI Kab. HSU, dan lain-lain. Juga sebagai Mustasyar PWNU Kalsel dan Rais Syuriah Pengurus Besar (PBNU) Jakarta.
Beliau juga mengisi pengajian rutin di Majelis Taklim “Al-Khalidiyah” Tangga Ulin dan “al-Ma’arif” Amuntai. Khusus pengajian di MT Taklim al-Ma’arif, dia mulai pada sekitar tahun 1960-an final yaitu sepulang dari kuliah di Mesir. Adapun bahan yang dia bahas adalah persoalan tauhid, fiqih, tasawuf dan banyak sekali permasalahan kemasyarakatan yang dialami.
KH. Hamdan Khalid, Lc termasuk ulama yang gigih memberantas sekaligus meluruskan aliran-aliran yang menyimpang dari aliran islam yang sebenarnya. Diantara kitab atau risalah yang berkaitan dengan hal tersebut, yang ditulis oleh dia ialah : "Agenda Khusus Dialog Kitab Ad-Durun Nafis".
BEBERAPA KALAM KH. HAMDAN KHALID
1. Terhadap suatu amalan yang baik, jika belum pernah dibaca, baca dulu, jika sudah diamalkan, amalkan terus.
2. Bila kita berziarah, bacakanlah apa saja yang kita bisa, menyerupai bacaan al-Qur’an dan shalawat, maka hal tersebut akan memberi faedah kepada orang yang kita ziarahi, dan kepada diri kita sendiri.
3. Memang segala sesuatunya diciptakan oleh Tuhan. Tetapi yang baik-baik saja yang kita sandarkan kepada Tuhan. Sedangkan yang tidak baik ialah semata-mata alasannya ialah kesalahan kita. Itu merupakan adat kita kepada Tuhan.
4. Tolong kitab-kitab yang tidak sesuai dengan al-Qur’an dan sunnah semoga ditinggalkan alasannya ialah dapat menyesatkan ummat.
5. Hendaknya gunakan waktu untuk membaca al-qur’an, kada kawa banyak sedikit barang.
6. Arti ‘wajib baginya syafa’atku’, maksudnya Rasulullahlah yang akan ‘maharung’ diakhirat kelak.
KH. Hamdan Khalid wafat hari Senin kemaren.
Innaa Lillah Wa Inna Ilaihi Raaji'uun.
Semoga Allah mengampuni semua kesalahan beliau, membalas semua amal baik beliau, dan mengumpulkan dia bersama wali-waliNya.
Aamiin Yaa Robbal 'Aalamiin.
Al-Fatihah...

